Cybercrimes menjadi semakin berkembang dan canggih dan memiliki dampak ekonomi yang lebih parah daripada kejahatan pada umumnya. teknologi dan orang-orang yang terampil dibidang ini memiliki tingkat kejahatan yang lebih luas dibanding kejahatan pada umumnya. Dan sifat kejahtan dunia maya mempunyai struktur yang berbeda. Pembahasan kali ini, kita akan menjelaskan atau mengkaji bagaimana karakteristik kejahatan cyber, korban cybercrime , dan bagaimana kedudukan cybercrime didalam hukum, untuk saling melengkapi satu sama lain. Selanjutnya, kita membangun elemen kunci dari siklus kejahatan dan beberapa karakteristik tambahan dari kejahatan dunia maya untuk menilai untung rugi dari sudut pandang hacker.
Introduction
Mekanisme yang menjadi penyebab sebuah tindakan criminal berbeda untuk tiap type kejahatan (Clarke,1983). Sebuah pemahaman yang lebih rinci tentang mekanisme tersebut, yaitu, struktur biaya, keuntungan, dan daya tarik dari kejahatan dunia maya, menjadi penting untuk menanggulangi jenis kejahatan baru ini. Ada Tiga faktor struktur yg unik yang menjadi penyebab kejahatan dunia maya yaitu, teknologi dan keterampilan yang mumpuni, tingkat kejahatan yang lebih luas dibanding kejahatan pada umumnya, dan modus kejahatan yang masih baru atau terkini.
Pertama, tidak seperti kejahatan pada umumnya yang melibattkan manusia atau benda seperti pembakaran rumah, perampokan, dan pembunuhan, sebagian besar kejahatan dunia maya membutuhkan keahlian khusus untuk melakukannya. Pada intinya, harus ditekankan bahwa bahkan pemula yang hanya menggunakan tools orang lain untuk melakukan kejahatan dunia maya memiliki keamampuan yg lebih dibandingkan dengan orang-orang yang melakukan kejahatan pada umumnya.Kedua, mengingat internet digunakan secara luas, kejahatan dunia maya memerlukan prosedur dan masalah yurisdiksi.
Ketiga, karena sebagian besar kejahatan dunia maya bersifat baru, otoritas pelaksanaan hukum di seluruh dunia relatif tidak berpengalaman untuk menangani kejahatan-kejahatan seperti ini.
Keempat, implikasi lain dari kejahatan yang bersifat baru adalah bahwa sistem hukum tidak berkembang dengan baik untuk menangani kejahatan dunia maya. Brenner (2004, hal 22 ) mengutip : " . . . model pelaksanaan hukum tradisional merupakan kompilasi dari pengalaman masa lalu yang telah dianggap efektif dalam menangani fenomena yang dihadapai. Strategi umum model, pendekatan reaktif, adalah salah satu yang telah digunakan sejak jaman dahulu. " Beberapa ahli berpendapat bahwa " prinsip-prinsip awal hukum mengenai kejahatan cyber perlu dipertimbangkan kembali” ( Katyal , 2001). Selain itu, beberapa negara belum memiliki hukum untuk menangani kasus cybercrime.
Kelima, masih dimensi lain dari corak baru adalah kurangnya mekanisme yg dikembangkan sebelumnya dan kode yang ditetapkan, kebijakan, aturan dan prosedur yang diterapkan. faktor-faktor inilah yang menyebabkan kurangnya rasa bersalah pelaku kejahatan dunia maya dibandingkan dengan pelaku kejahatan pada umumnya.
Pada pembahasan ini struktur kejahatan dunia maya dan penilaian keuntungan dan kerugian kejahatan cyber. Dari sudut pandang korban, dikethaui bahwa analisis ekonomi dapat mmbantu menjelaskan investasi yang optimal serta jenis tindakan yang diperlukan untuk mencegah hacker meretas ke dalam organisasi jaringan komputer (Anderson & Schneier, 2005). Kami menawarkan analisis ekonomi sederhana dari perspektif kejahatn cyber. Analisis seperti ini memberikan pandangan tentang faktor-faktor yang pendorong dan meningkatkan perilaku kejahatan cyber.
Mekanisme yang menjadi penyebab sebuah tindakan criminal berbeda untuk tiap type kejahatan (Clarke,1983). Sebuah pemahaman yang lebih rinci tentang mekanisme tersebut, yaitu, struktur biaya, keuntungan, dan daya tarik dari kejahatan dunia maya, menjadi penting untuk menanggulangi jenis kejahatan baru ini. Ada Tiga faktor struktur yg unik yang menjadi penyebab kejahatan dunia maya yaitu, teknologi dan keterampilan yang mumpuni, tingkat kejahatan yang lebih luas dibanding kejahatan pada umumnya, dan modus kejahatan yang masih baru atau terkini.
Pertama, tidak seperti kejahatan pada umumnya yang melibattkan manusia atau benda seperti pembakaran rumah, perampokan, dan pembunuhan, sebagian besar kejahatan dunia maya membutuhkan keahlian khusus untuk melakukannya. Pada intinya, harus ditekankan bahwa bahkan pemula yang hanya menggunakan tools orang lain untuk melakukan kejahatan dunia maya memiliki keamampuan yg lebih dibandingkan dengan orang-orang yang melakukan kejahatan pada umumnya.Kedua, mengingat internet digunakan secara luas, kejahatan dunia maya memerlukan prosedur dan masalah yurisdiksi.
Ketiga, karena sebagian besar kejahatan dunia maya bersifat baru, otoritas pelaksanaan hukum di seluruh dunia relatif tidak berpengalaman untuk menangani kejahatan-kejahatan seperti ini.
Keempat, implikasi lain dari kejahatan yang bersifat baru adalah bahwa sistem hukum tidak berkembang dengan baik untuk menangani kejahatan dunia maya. Brenner (2004, hal 22 ) mengutip : " . . . model pelaksanaan hukum tradisional merupakan kompilasi dari pengalaman masa lalu yang telah dianggap efektif dalam menangani fenomena yang dihadapai. Strategi umum model, pendekatan reaktif, adalah salah satu yang telah digunakan sejak jaman dahulu. " Beberapa ahli berpendapat bahwa " prinsip-prinsip awal hukum mengenai kejahatan cyber perlu dipertimbangkan kembali” ( Katyal , 2001). Selain itu, beberapa negara belum memiliki hukum untuk menangani kasus cybercrime.
Kelima, masih dimensi lain dari corak baru adalah kurangnya mekanisme yg dikembangkan sebelumnya dan kode yang ditetapkan, kebijakan, aturan dan prosedur yang diterapkan. faktor-faktor inilah yang menyebabkan kurangnya rasa bersalah pelaku kejahatan dunia maya dibandingkan dengan pelaku kejahatan pada umumnya.
Pada pembahasan ini struktur kejahatan dunia maya dan penilaian keuntungan dan kerugian kejahatan cyber. Dari sudut pandang korban, dikethaui bahwa analisis ekonomi dapat mmbantu menjelaskan investasi yang optimal serta jenis tindakan yang diperlukan untuk mencegah hacker meretas ke dalam organisasi jaringan komputer (Anderson & Schneier, 2005). Kami menawarkan analisis ekonomi sederhana dari perspektif kejahatn cyber. Analisis seperti ini memberikan pandangan tentang faktor-faktor yang pendorong dan meningkatkan perilaku kejahatan cyber.
A. Faktor Ekonomi Yang Menyebabkan Cybercrime
Peneliti sebelumnya telah berpendapat bahwa "pelanggaran akan terjadi jika godaan ekonomi semakin tinggi. "(Hirschauer & Musshoff, 2007, hal. 248). Orang-orang dapat melihat bahwa sistem hukum kriminal telah sah dan adil, menerima legitimasi norma-norma anti-cybercrime dan masalah internal lainnya, tapi mungkin mereka melanggar aturan ketika godaan ekonomi kuat (Morgan, 2005). Sebuah pertanyaan penting kemudian adalah: faktor apa yang menyebabakan sehingga mereka tergoda untuk melakukan kejahatan dunia maya??
1. Sasaran
Daya Tarik Target tergantung pada persepsi pelaku terhadap korban. Penelitian terduhulu
menunjukkan bahwa peluang kejahatan tergantung keuntungan yang akan diperoleh dari target korban, yang diukur dari nilai ekonomi, nilai simbolis dan portabilitas (Clarke, 1995). Umumnya kekayaan suatu wilayah dan sasaran itu dipengaruhi daya tariknyaa. Penelitian empiris telah menunjukkan bahwa pada daerah tertentu, semakin mewah kendaraan yang dimiliki oleh masyarakatnya lebih cenderung menjadi sasaran (Clarke, 1995). Demikian juga, beberapa benda yang disebut "hot produk" akan menjadi sasaran (Clarke, 1999). sasaran daya tarik
juga terkait dengan aksesibilitas dan visibilitasnya, muda diakses secara fisik, dan kurangnya
pengawasan (Bottoms & Wiles, 2002; Clarke, 1995).
2. Economic Conditions Facing an Offender
Secara umum, tingkat kejahatan sangat berhubungn kemampuan ekonomi yang rendah. Becker (1995 , p . 10 ) berpendapat bahwa tingginya tingkat criminal yang melibatkan remaja: "kurangnnya pendapatan menjadi salah satu factor dalam melakukan kejahtan, dan remaja memiliki pendapatan lebih rendah dan kesempatan kerja lebih sedikit ".
Peneliti sebelumnya telah berpendapat bahwa "pelanggaran akan terjadi jika godaan ekonomi semakin tinggi. "(Hirschauer & Musshoff, 2007, hal. 248). Orang-orang dapat melihat bahwa sistem hukum kriminal telah sah dan adil, menerima legitimasi norma-norma anti-cybercrime dan masalah internal lainnya, tapi mungkin mereka melanggar aturan ketika godaan ekonomi kuat (Morgan, 2005). Sebuah pertanyaan penting kemudian adalah: faktor apa yang menyebabakan sehingga mereka tergoda untuk melakukan kejahatan dunia maya??
1. Sasaran
Daya Tarik Target tergantung pada persepsi pelaku terhadap korban. Penelitian terduhulu
menunjukkan bahwa peluang kejahatan tergantung keuntungan yang akan diperoleh dari target korban, yang diukur dari nilai ekonomi, nilai simbolis dan portabilitas (Clarke, 1995). Umumnya kekayaan suatu wilayah dan sasaran itu dipengaruhi daya tariknyaa. Penelitian empiris telah menunjukkan bahwa pada daerah tertentu, semakin mewah kendaraan yang dimiliki oleh masyarakatnya lebih cenderung menjadi sasaran (Clarke, 1995). Demikian juga, beberapa benda yang disebut "hot produk" akan menjadi sasaran (Clarke, 1999). sasaran daya tarik
juga terkait dengan aksesibilitas dan visibilitasnya, muda diakses secara fisik, dan kurangnya
pengawasan (Bottoms & Wiles, 2002; Clarke, 1995).
2. Economic Conditions Facing an Offender
Secara umum, tingkat kejahatan sangat berhubungn kemampuan ekonomi yang rendah. Becker (1995 , p . 10 ) berpendapat bahwa tingginya tingkat criminal yang melibatkan remaja: "kurangnnya pendapatan menjadi salah satu factor dalam melakukan kejahtan, dan remaja memiliki pendapatan lebih rendah dan kesempatan kerja lebih sedikit ".
B. Proses Ekonomi Yang Memotivasi Pelaku Kejahatan
Tidak seperti kejahatan pada umumya terhadap orang atau barang seperti pembakaran rumah, perampokan, dan pembunuhan, kejahatan dunia maya meruapakan kejahatan yang mengandalkan skill atau keterampilan. Pada negara-negara industri, orang-orang memiliki kemampauan IT dapat lebih mudah menemukan pekerjaan yang bergensi. Sejumlah besar serangan cyber berasal dari Eropa Timur dan Rusia karena pelajar pada Negara ini mempunyai kemampuan matematika, fisika dan computer yang baik tetapi kesulitan mencari pekerjaan (Blau, 2004). Factor ekonomi dari Negara-negara pecahan uni soviet hanya sedikit menyediakan lapangan pekerjaan bagi orang orang yang memiliki kemampuan komputer. (Serio & Gorkin, 2003).
Di balik semua itu pada tahun 1998 terjadi krisisi finansial di Rusia yang menyebabkan programmer kehilangan pekerjaan (Serio & Gorkin, 2003). Di beberapa negara, kelompok kejahatan yang terorganisir dilaporkan diabayar sampai 10 kali bagi lulusan IT (Warren, 2007). Pendapat Seorang hacker di Moscow menjelaskan bahwa: "Hacking adalah salah satu pekerjaan yang baik yang tersisa di sini "(Walker, 2004). Demikian juga, tentang hacker yang berasal dari Rumania, pusat pengaduan kejahtan penipuan yang terjadi di internet: mencatat bahwa "masalah lapangan pekerjaan yang ditawarkan di Rumania, menyebabakan beberapa dari pelajar computer yang berbakat di dunia mengeksploitasi bakat mereka secara online. "
Pemilihan Target
Bisnis dengan ketergantungan yang tinggi terhadap teknologi digital seperti kasino online, bank, dan jaringan e-commerce merupakan yang paling berpotensi untuk menjadi korban kejahatan dunia maya (Kshetri, 2005). Ini tampaknya menjadi target yang menarik, yang memberikan daya tarik kuat bagi pelaku kejahatan cyber (Clarke, 1995; Morgan, 2005). Sebuah studi oleh IDC menunjukkan bahwa lebih dari 60% dari kejahatan dunia maya yang ditargetkan lembaga keuangan pada tahun 2003 (Swartz, 2004).
Tidak seperti kejahatan pada umumya terhadap orang atau barang seperti pembakaran rumah, perampokan, dan pembunuhan, kejahatan dunia maya meruapakan kejahatan yang mengandalkan skill atau keterampilan. Pada negara-negara industri, orang-orang memiliki kemampauan IT dapat lebih mudah menemukan pekerjaan yang bergensi. Sejumlah besar serangan cyber berasal dari Eropa Timur dan Rusia karena pelajar pada Negara ini mempunyai kemampuan matematika, fisika dan computer yang baik tetapi kesulitan mencari pekerjaan (Blau, 2004). Factor ekonomi dari Negara-negara pecahan uni soviet hanya sedikit menyediakan lapangan pekerjaan bagi orang orang yang memiliki kemampuan komputer. (Serio & Gorkin, 2003).
Di balik semua itu pada tahun 1998 terjadi krisisi finansial di Rusia yang menyebabkan programmer kehilangan pekerjaan (Serio & Gorkin, 2003). Di beberapa negara, kelompok kejahatan yang terorganisir dilaporkan diabayar sampai 10 kali bagi lulusan IT (Warren, 2007). Pendapat Seorang hacker di Moscow menjelaskan bahwa: "Hacking adalah salah satu pekerjaan yang baik yang tersisa di sini "(Walker, 2004). Demikian juga, tentang hacker yang berasal dari Rumania, pusat pengaduan kejahtan penipuan yang terjadi di internet: mencatat bahwa "masalah lapangan pekerjaan yang ditawarkan di Rumania, menyebabakan beberapa dari pelajar computer yang berbakat di dunia mengeksploitasi bakat mereka secara online. "
Pemilihan Target
Bisnis dengan ketergantungan yang tinggi terhadap teknologi digital seperti kasino online, bank, dan jaringan e-commerce merupakan yang paling berpotensi untuk menjadi korban kejahatan dunia maya (Kshetri, 2005). Ini tampaknya menjadi target yang menarik, yang memberikan daya tarik kuat bagi pelaku kejahatan cyber (Clarke, 1995; Morgan, 2005). Sebuah studi oleh IDC menunjukkan bahwa lebih dari 60% dari kejahatan dunia maya yang ditargetkan lembaga keuangan pada tahun 2003 (Swartz, 2004).
0 komentar:
Posting Komentar